Minggu, 31 Oktober 2010

Merapi Makin Berbahaya

Merapi Makin Berbahaya
Sulit Diprediksi, Wedhus Gembel ke Segala Arah
SLEMAN -
Ini peringatan bagi warga yang tinggal dalam radius belasan kilometer dari Merapi. Erupsi gunung berapi paling aktif di dunia itu dilaporkan semakin sulit ditebak. Kemarin (31/10) Merapi kembali menyemburkan wedhus gembel alias awan panas lima kali secara vertikal sekitar pukul 14.28 hingga pukul 15.16 WIB. Erupsi itu dikabarkan paling eksplosif sejak Merapi meletus Selasa lalu (26/10).
Asap solfatara membubung sekitar 3,5 kilometer, bola api atau letusan vertikal terasa hingga radius 2 kilometer dari Pos Selo, Jrakah, Ngepos, dan Kaliurang. Kemudian, getaran letusan dirasakan hingga radius 15 kilometer dari barat daya Merapi, yaitu wilayah Srumbung, Magelang. Hujan pasir yang ditimbulkan mencapai radius 11 kilometer dan hujan abu dirasakan hingga Bantul dan Bayolali.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Jogjakarta Subandriyo mengatakan bahwa aktivitas Merapi tahun ini sulit diprediksi. Sebab, karakteristik letusannya berbeda dengan tahun lalu. Yakni, semburan awan panas ke udara. ’’Bila pada 2006, letusannya hanya horizontal atau mengalir di lereng. Tetapi, kali ini ke udara dan letusannya bersifat eksplosif,’’ terangnya kemarin sore (31/10).
Letusan vertikal itu pernah terjadi puluhan tahun silam. Bila melihat karakteristiknya, Subandriyo tidak bisa memperkirakan kapan berhenti totalnya. Sebab, menurut catatan dia, durasi letusan dahsyat terjadi sekitar 10 jam sekali. Hal itu disebabkan aktivitas di perut gunung masih cukup tinggi.
Aktivitas Merapi kali ini juga berbeda dengan kejadian pada 2006. Sebab, tekanan magma dari perut gunung cukup besar. Karena itu, dia memastikan bahwa letusan yang terjadi kemarin bukan erupsi terakhir. ’’Masih ada energi yang tersimpan sekitar 7,5 juta kubik magma dalam perut gunung sehingga sampai sekarang Merapi berstatus awas,’’ ujarnya.
Erupsi Merapi yang terjadi sejak Selasa (26/10) hingga Minggu dini hari (31/10), menurut Subandriyo, telah meluruhkan hampir dua juta meter kubik material. Ambrolnya kubah lava tersebut mengakibatkan bagian puncak Gunung Merapi terbentuk kawah berdiameter 200 meter. ’’Sudah terbentuk baru. Tadi malam dan sore (kemarin, Red) juga terjadi awan panas,’’ kata Subandriyo.
Berdasar catatan Pos Pengamatan Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Merapi memang masih fluktuatif. Gempa multifase terjadi 12 kali diikuti 15 kali guguran. ’’Data ini mulai pukul 00.00 hingga pukul 06.00. Setiap saat bisa terjadi peningkatan secara cepat dan besar,’’ kata Yulianto, petugas setempat.
Di tempat terpisah, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen ESDM Surono menambahkan, pihaknya tetap harus menunggu perkembangan beberapa hari ke depan. ’’Lihat saja letusan Sabtu lalu (30/10). Baru Selasa meletus, kemudian tenang, tiba-tiba aktivitas meningkat, dan kembali terjadi letusan,’’ tutur Surono.
Menurut dia, yang membuat semakin misterius adalah perubahan pola letusan. Sebelumnya, gejala-gejala fisiknya sudah bisa teramal. Mulai pembentukan kubah, jatuhnya kubah karena daya vulkanis dan gravitasi, hingga terjadi erupsi. Tetapi, kini tidak bias lagi diprediksi. ’’Karena itu, agar aman, setidaknya pengungsi harus tinggal sebulan lagi,’’ tandasnya. Analis Stasiun Pemantauan Bale Rante A. Lesto Prabhancana Kusumo menyatakan, gempa Merapi masih bisa terjadi dengan signifikan. Yang lebih mengkhawatirkan, lanjut dia, adanya cesar (patahan) di lereng Merapi. ’’Bila terjadi gempa terus-menerus, bukan tak mungkin itu membuat puncak Merapi terpotong dan puluhan juta meter kubik material jatuh,’’ imbuhnya.
Letusan yang mencapai lima kali sore kemarin juga mencatat sejarah baru. Sebab, biasanya awan panas meluncur ke Selatan, namun kali ini semakin besar dan meliuk seperti ular raksasa ke timur. Karena itu, awan panas terbawa angin dan hujan abu ke arah Boyolali dan Solo. Hujan abu juga dilaporkan terjadi di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali) di ring road utara.
Berdasar laporan BPPTK pada pukul 15.23, awan panas besar muncul dan mengarah ke Kali Lamat, Senowo, Kali Krasak (di wilayah Magelang atau sebelah barat Merapi), dan Kali Gendol (wilayah Sleman). Hal itu terjadi karena ada pembengkakan dinding puncak Merapi hingga merata dan melingkar. Itu yang mengakibatkan letusan ke segala arah. ’’Memang terjadi pembengkakan ke utara dan timur. Jadi tidak hanya ke selatan,’’ terang Subandriyo.
Gara-gara letusan ke segala arah, awan panas dan hujan abu menganggu Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah. Bahkan, aktivitas bandara ditutup satu jam. ’’Perhatian, mulai pukul 19.00 WIB hingga satu jam selanjutnya, bandara ditutup demi keselamatan karena gangguan hujan debu,’’ kata Rini Srihandayani, petugas pelayanan Angkasa Pura II di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Minggu, (31/10).
Akibat penutupan Bandara Adi Sumarmo, sejumlah penerbangan terlambat (delay). Termasuk penerbangan Garuda GA215 dari Solo ke Jakarta. Seharusnya pesawat itu terbang pukul 18.45 WIB, namun terpaksa diundur.
Tetapi, situasi tersebut tidak terjadi di Bandara Adisucipto, Jogjakarta. Bandara itu terus beraktivitas. Sebab, abu Merapi mengarah ke timur. Hal itu juga disampaikan beberapa pilot yang take off dari Adi Sutjipto dan melihat aktivitas Merapi. ’’Lava ke selatan dan debu mengarah ke timur,’’ ujar Manajer Operasional Angkasa Pura II Halendra Woworuntu saat dihubungi wartawan.
Selain itu, letusan Merapi yang sering terjadi secara tiba-tiba memaksa warga yang pulang ke rumah di Desa Klakah dan Jrakah, Kecamatan Selo, harus kembali ke pengungsian sore kemarin. Mereka panik lantaran melihat awan panas menyembur ke arah Selo dan Musuk. Sekitar delapan ribu pengungsi kembali ke barak di lapangan Samiran, Selo. Mereka yang masih menghuni rumah pribadi maupun barak-barak pengungsian di sekitar Srumbung dan Dukun juga bergerak turun, menyelamatkan diri dan menyerbu berbagai lokasi pengungsian lain yang agak jauh dari Merapi.
Kini jumlah pengungsi meningkat. Saat erupsi pertama Selasa (26/10), jumlah pengungsi 28.700 orang. Setelah erupsi 28 Oktober, jumlah pengungsi naik menjadi 37.852 dan kini mencapai 39 ribu jiwa.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang Eko Triyono mengatakan, jumlah pengungsi terus bertambah karena warga ketakutan dengan meningkatnya aktivitas Gunung Merapi. ’’Awalnya hanya wanita dan anak-anak yang mengungsi. Namun, mereka yang sebelumnya menolak mengungsi sekarang sudah mau. Bahkan, warga di luar KRB III juga ikut mengungsi,’’ jelas Eko.
Dia mengungkapkan, tambahan pengungsi baru itu ditampung di sejumlah TPS. Di antaranya, Balai Desa Gunungpring (Muntilan), SD Negeri 1 Srumbung, Balai Desa Sudimoro (Srumbung), SMP Sudimoro (Srumbung), Balai Desa Gondowangi (Sawangan), Balai Desa Gulon, dan lapangan Jumoyo (Salam).
Pihaknya kembali menerjunkan anggota untuk mengevakuasi warga. Hingga berita ini ditulis, evakuasi masih berlangsung. Sebab, transportasi untuk mengangkut warga terbatas. ’’Sebagian masih tertahan di pengungsian sementara sebelum ke tempat pengungsian akhir di Selo,’’ terangnya.
Di tempat pengungsian, sejumlah anak terindikasi mengalami gangguan psikologis. Kebanyakan di antara mereka mengalami trauma saat erupsi berlangsung. Direktur Pelayanan Sosial Anak Kementerian Sosial Republik Indonesia Harry Hikmat mengatakan, hal itu terbukti dengan banyaknya anak yang mulai menampakkan kebiasaan aneh.
’’Saya melihat ketika mereka berkumpul menjadi satu, ada seorang anak tiba-tiba lari. Ketika mendengar gemuruh terlalu kencang, seketika itu mereka memeluk erat ibunya,’’ tuturnya ketika meninjau posko di gedung KPRI Kecamatan Dukun kemarin.
Hal itu, merurut dia, wajar mengingat kejadian erupsi Merapi membuat panik warga sekitar. ’’Bagaimana tidak trauma. Ketika tidur lelap, tiba-tiba mereka dibangunkan dan diajak berlarian. Hal ini tentu akan menggagu pikiran mereka,’’ terangnya.
Karena itu, ribuan anak yang tinggal di kawasan Gunung Merapi, seperti Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali, membutuhkan pendampingan secara khusus. ’’Jangan sampai terjadi seperti yang dialami korban bencana ambrolnya situ gintung. Banyak anak trauma hingga mereka dewasa hanya karena pendampingan tidak pernah dilakukan,’’ kata dia.
Tidak hanya trauma, setelah puluhan pengungsi terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dua hari terakhir giliran penyakit diare yang mulai menyerang. Pasien yang mengeluhkan sakit perut semakin banyak. Hal itu ditandai banyaknya permintaan obat sakit perut di pos kesahatan yang berpusat di Puskesmas Kemalang.
Kepala Dinas Kesehatan (dinkes) Rony Roekmito mengatakan, jumlah pasien  yang menderita berbagai jenis penyakit ditangani tim medis. Ada belasan orang yang harus menjalani rawat inap di puskesmas dan Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro. ’’Sebelumnya pasien rawat inap 13 orang, namun sebagian sudah pulang. Penyakit diare harus mulai diwaspadai pengungsi,’’ ujarnya. (yog/nis/jko/uki/ano)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar